oemar bakrie

oemar bakrie
pendidikan konyol

Jumat, 28 Januari 2011

model pembelajaran untuk skripsi yang efektif



Revolusi dibidang pendikan ditandai dengan adanya perubahan paradikma belajar. Paradikma tardisional percaya bahwa belajar yang baik adalah penuh disiplin, patuh dan guru sebagai satu satunya sumber ilmu. Sementara itu, nampak bahwa hasil dari proses pembelajaran semacam itu menciptakan siswa ( dan bahkan juga guru ) yang monoton, statis dan “ mesin hidup  “. Oleh karena itu saat ini guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dituntut hendaknya lebih mengacu kepada pembelajaran aktif, efektif, efisien, menyenangkan dan bermakna bagi siswa karena pembelajaran akan lebih berhasil apabila melibatkan potensi siswa

            Pendekatan Contextual and teaching learning  ( CTL ) adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa agar4 menghubungkan pengetahuan dan terapanya dengan kehidupan sehari hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
            Prinsip dasar dari CTL muncul dalam penekanan pendekatan pengajaran kontektual dalam bentuk:
1)       Belajar Berbasis Masalah ( Probllem Based Learning ). Belajar bukan sekedar drill infoemasi tetapi bagaimana menggunakan informasi dan berfikir kritis untuk memecahkan masalah yang ada didunia nyata.
2)       Pengajaran autentik ( Authentic Intruction ) pendekatan pengajaran yang memperkenalkan siswa untuk mempelajari kontek mermakna sesuai dengan kehidupan nyata. Kita belajar berenang dengan renang, belajar bernyanyi dengan nyanyi.
3)       Belajar berbasis Inquiri ( Inquiri based learning ) melajar bukanlah mengkonsumsi melainkan memproduksi dengan mengetahui apa yangmenjadi kebutuhan keingintahuan dan mencari sendiri jawabanya.
4)       Belajar berdasar proyek( tugas terstrutur) belajar bukan sekedar menyerap hal kecil sedikit demi sedikit dalam waktu panjang tetapi secara terpadu untuk mendapatkan banyak hal. proyek membantu orang untuk  melibatkan keseluruhan mental dan fisik, syaraf , indera termasuk kecakapan sosial dengan melakukan banyak hal sekaligus. 
5)       Belajar berbasisi kerja ( Work Based learning) untuk membuat belajar efektif belajar harus didasarkan pada pengalaman dan bukan kata kata semata. Jika kita mencari informasi perlu membaca kata kata. Jika kiat memerlukan pengalaman dengan melakukanya. Belajar adalah bekerja dan ketika orang bekerja ia belajar banyak hal.
6)       Belajar layanan jasa ( Servis learning ) Emosi amat menentukan proses dan hasil belajar. Perasaan positif yang timbul saat belajar dapat mempercepat belajar. Belajar dengan percaya diri, merasa dibutuhkan, bekerja sama/menolong orang lain dan akarb pada kegiatan diluar maupun didalam kelas lebih menjanjikan hasil.
7)       Belajar Kooperatif ( Cooperative Learning ) biasanya orang akan belajar lebih banyak melalui interaksi dengan teman teman. Satu kelas besar yang belajar bersama akan menghasilkan prestasi lebih baik daripada setiap individu belajar sendiri sendiri karena persaingan yang terus menerus antar pribadi justru akan melelahkan dan mereduksi hasil belajar.

Strategi pembelajaran kontektual: 

1)       Menekankan pentingnya pemecahan masalah/problem
2)       Mengakui perlunya kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat dan tempat kerja, alam dll.
3)       Mengontrol dan mengarahkan pembelajaran siswa agar siswa dapat belajar sendiri/mandiri
4)       Bermuara pada keragaman kontes kehidupan siswa yang berbeda beda
5)       Mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama sama
6)       Mengunakan penilaian authentik  (authentic assesment )

Tujuh pilar  Contextual Teaching And Learning ( CTL ).
CTL memiliki tujuh komponen yang disusun agar belajar menjadi lebih hidup seperti analogi anak TK, anak kecil merupakan pembelajar yang hebat karena secara totalitas merka dalam belajar. Mereka menggunakan seluruh tubuh dan indera untuk belajar dibanding dengan orang dewasa yang duduk berjam jam diruang kuliah dengan aktivitas tunggal mencatat.
            Sebagaimana sebuah rumah ketujuh pilar penyangga kuat maka eumah tersebut akan kuat dan kokoh demikian juga sebaliknya jika pilar penyangganya berkurangatau bahkan tidak ada, ketujuh pilar tersebut adalah:

1)       Kontrukvisme ( contructivism )
Kontruktivisnme merupakan landasan berfikir ( filosofi ) pendekatan CTL yaitu bahwa penegetahuan bukanlah seperangkat fakta fakta konsep atau kaidah yang siap diambil dan diangkat. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide ide. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri  informasi dari guru secara instant.
      Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkontruksi “ bukan “menerima” pengetahuan. Ssiswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru yang menjadi pusat kegiatan.
      Dalam pandangan kontruktivisme strategi memperoleh lebih diutamakan dibanding seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas seorang guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan :
§  Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
§  Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
§  Menyadarkan siswa agar menerpakan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2)       Menemukan  ( Inkquiri )
Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil Mengingat seperangkat fakta fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Pembelajaran inquiri mendorong siswa seluruh pkiran dan tubuh untuk bersama sama aktif baik didalam maupun diluar kelas. Guru hgarus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatanenemukan, apapun materi yang diajarkan. Misal topik batas wilayah propinsi Bengkulusudah saatnya ditemukan oleh siswa bukan “ menurut buku atau guru “.
                   Siklus inquiri dapat membantu siswa menemukan sendiri pengaetahuanya, tetapi hal ini bukan dogma yang harus diikuti dengan kaku. Siklus inquri tersebut adalah:
§  Merumuskan masalah
§  Mengamati atau melakukan observasi
§  Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan,bagan,tabel dan karya lainya
§  Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca. Teman sekelas, guru atau audien yang lain
§  Mengevaluasi hasil temuan bersama.
Para digma belajar yang lama telah memisahkan kesatuan utuh manusia yang terdiri dari rasa, karsa, dan karya. Gerak fisik bukan hanya dianggap mengganggu tetapi justru menjadi “ disorder beharvior “. Ketika belajar berhitung matematika sebatas menggerakana tangan untuk menghitung dengan muka serius dan kerutan kening.pembelajaran menjadi abstrak dan tidak masuk akal dan duduk terus menerus. Maka pelajaran berbasis inquiri inilah tonggak kebangkitan gagasan untuk mulai berfikir dana bergerak.
3)   Bertanya ( Questioning )
            Pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama dalam pebelajaran berbasis  CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membinbing dan menilai kemampuan berfikir siswa.
Dalam pembelajaran produktif kegiatan bertanya berguna untuk:
§  Menggalai informasi
§  Mengecek pemahaman siswa
§  Mengetahui sejauh mana ke inginan siswa
§  Mengetahui hal hal yang sudah diketahui siswa
§  Memfokuskan perhatian siswa
§  Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyan dari siswa
§  Menyegarkan kembali pengetahuan siswa
4)   Masyarakat Belajar (learning comunity )
     Konsep earning comunity ialah hasil pembelajaran yang diperoleh dari kerja sama dengan orang lain.
Model pembelajaran dengan teknik “ Learning comunity “ sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Praktiknya dalam pembelajaran terwujud dalam :
§  Pembentukan kelompok kecil
§  Pembentukan kelompok besar
§  Bekerja sama denga  kelas sederajad
§  Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya
§  Bekerja dengan masyarakat
§  Mendatangkan alhi kekelas misal pengurus koperasi, peneliti dll

5)   Pemodelan ( modeling )
        Dalam pendekatan CTL guru bukan satu satnya model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Misal seorang siswa daoat memberi contoh melafalkan suatu kata.
Bagaimana contoh praktik pemodelan dalam kelas?
§  Guru ekonomi menunjuk seorang siswa sebagai pedagang
§  Tukang kkayu mendemontrasikan mengetam kayu
§  Guru olah raga memberi contoh berenang
6)   Refleksi Reflection )
     Mengulang apa-apa yang sudah yang sudah kita pelajari, merasakanya membayangkanya denganmenggunakan jurnal diskusi hasil proyek.refleksi merupakan kegiatan mengevaluasi diri karena itulah siklus kehidupan yang nyata.
7)   Penilaian yang sebenarnya. ( authentik Assessment )
        Proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan siswa.
Karakteristik autentic assessment adalah:
§   Dilaksanakan selama dan sesudah prosespembelajaran berlangsung
§   Berkesinambungan
§   Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
§   Yang diukur ketrampilan performens bukan mengingat fakta
§   Terintegrasi
§   Dapat digunakan sebagai feed back

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar